Minggu, 22 Maret 2015

Kereta Api Penuh Cerita di Semester Lima



     Liburan semester merupakan momen yang paling dinanti-nanti oleh setiap civitas akademika. Jika sudah merasa bosan menjalani perkuliahan maupun merasa lelah akan banyaknya tugas yang dikerjakan, maka yang ada di benak kami hanyalah harapan agar momen liburan segera tiba. Kami adalah mahasiswa yang telah menempuh setengah perjalanan program S1 Pendidikan Agama Islam.
Menginjak semester lima, kamipun tetap bersemangat menjalani masa perkuliahan. Kami penghuni ruang kelas M.105 Micro Teaching mulai merencanakan ke manakah tujuan liburan nanti. Setelah melalui voting bersama, akhirnya dapatlah sebuah kota yang akan kami tuju. Banyuwangi, kota asal gadis berkulit putih dan sosoknya yang lemah lembut senada dengan arti namanya, Lety Latifah. Kami pun setuju bahwa liburan kali ini berlokasi di salah satu kota paling ujung provinsi Jawa Timur.
Liburan pun tiba, betapa bahagianya kami yang telah menjalani rutinitas selama satu semester di Kampus Ulul Albab ini. Tujuh orang anggota ICP Bahasa Inggris ini memilih tidak ikut karena ada keperluan lain. Sebanyak sebelas tiket kereta api Tawang Alun sudah dipesan sejak dua minggu sebelum hari H. Hari Jum’at, 28 Desember 2012 merupakan rangkaian awal cerita kami pada liburan semester lima. Keberangkatan dari Stasiun Kota Baru sampai Stasiun Rogo Jampi Banyuwangi menempuh waktu 14 jam.
Dalam perjalanan, kami bersebelas mendapat tempat duduk satu barisan berdampingan. Hanif, Ipin, Atok, Simon, Yahya, Dimas, Wawan, Lucky, Uswah, Lety, dan aku menduduki kereta tiga gerbong satu kelas ekonomi. Kami berangkat pukul 14.40 WIB dan tiba pukul 22.41 WIB sesuai jadwal yang tertera dalam tiket. Tak lupa sebelum kereta pun berjalan, kami berdoa bersama agar perjalanan kali ini selamat sampai tujuan hingga kita pulang.
Aku memilih duduk di pinggir jendela kereta agar dapat menikmati pemandangan yang sangat jarang aku temui. Melewati sawah, perkampungan, hutan, dan terowongan membuatku merasa senang. Berbagai aktivitas telah kami lakukan agar perjalanan tidak bosan. Banyak obrolan seru, canda tawa, bahkan juga perkenalan singkat Wawan, Atok, dan Dimas dengan dua gadis yang sebaris dengan tempat duduk kami. Tak lupa juga kami merekam semua momen kami dengan berfoto bersama dalam kereta. Lety membaca setiap nama stasiun yang kami lewati dan memberitahukan bahwa ada berapa stasiun lagi yang belum kami singgahi.
Waktu menunjukkan pukul 22.41 WIB di Stasiun Rogo Jampi Banyuwangi, menandakan bahwa kami sudah tiba di Kota pinggir laut ini. Setelah itu kami menuju rumah Lety selama setengah jam dengan dijemput mobil cherry warna biru tua.
Sesampai di rumah, kami pun mandi, shalat, dan melanjutkan untuk makam malam bersama. Waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB, saatnya kami untuk merajut mimpi yang indah. Uswah, Lucky, Lety, dan Aku tidur di kamar yang bercat kuning, kamar pribadi Lety.
Ayam pun berkokok dan lantunan ayat Al-Qur’an terdengar merdu di telinga, menandakan waktu Shubuh tiba setelah muadzin mengumandangkan adzan. Kami segera bangun dan antri untuk mengambil air wudhu sebelum kami melakukan shalat Shubuh bersama. Seusai shalat Shubuh berjama’ah, bapak-bapak (sebutan lelaki di kelas) yakni Ipin, Dimas, Hanif, dan Yahya melakukan senam pagi di halaman samping rumah yang luasnya sekitar 250m2.  Sedangkan ibu-ibu (sebutan gadis di kelas) yakni Lucky, Uswah, Lety, dan Aku menyiapkan menu makanan pagi hari pertama di Banyuwangi yang panas ini. Sebagian dari mereka masih ada yang tertidur pulas seusai shalat Shubuh tadi, yakni Simon, Atok, dan Wawan. Memang perjalanan yang panjang dalam kereta membuat kami sangat kelelahan  hanya untuk duduk selama 14 jam.
Sabtu, 29 Desember 2012 merupakan hari dimana kita masih bermalas-malasan untuk beraktivitas, karena baru saja melakukan perjalanan yang sangat jauh. Kami hanya berdiam diri di rumah dengan mengobrol, makan-makan, menonton film india, dan berfoto-foto ria untuk mengisi satnite  itu hingga larut malam.
Pagi di hari Minggu, 30 Desember 2012 kami mengunjungi sumber air yang jernih yang konon mistis bagi warga sekitar. Kurang lebih satu kilometer kami berjalan menuju tempat yang juga terdapat makam sesepuh desa Kumendung itu. Setelah tiba di sana, bapak-bapak mandi di sumber air itu. Sedangkan ibu-ibu hanya sibuk narsis mengambil gambar teman-teman kami. Sepulang dari sumber, tepat pukul 9.00 WIB kami menuju Pantai Watudodol yang tempatnya cukup jauh dari rumah Lety. Perjalanan menuju pantai yang berbatasan dengan selat Bali ini menempuh sekitar tiga jam.  Kami melakukan aksi lomba renang bagi bapak-bapak, sedangkan ibu-ibu memandu lomba itu dan merekam dengan kamera digital. Hari pun telah sore menandakan waktu pulang tiba. Tak lupa juga kami mampir ke tempat oleh-oleh khas Banyuwangi untuk membeli makanan dan camilan khas Banyuwangi.  Sesampai di rumah kami mandi, makan, dan shalat berjama’ah, setelah itu beristirahat agar keesokan harinya untuk pulang ke Malang supaya badan tetap fit.
Senin, 31 Desember 2012 pukul 5.30 WIB merupakan catatan akhir tahun perjalanan liburan kami. Tetap dengan kereta api Tawang Alun kelas ekonomi yang menemani perjalanan panjang penuh warna di akhir tahun 2012 ini. Kami tiba di stasiun Kota Baru Malang pukul 13.30 WIB lebih awal dari jadwal yang tertera pada tiket. Setelah itu kami berpisah menuju rumah masing-masing. Sungguh menyenangkan momen perjalanan liburan akhir tahun kali ini dan tak akan pernah terlupakan.


Culinary Time


     Pernah ngerasain nggak sih, setelah sekian lama berkutat dengan seabrek pekerjaan yang harus diselesaikan, ataupun seabrek tugas kuliah yang baru beres dan clear semua, apa yang biasanya dirasakannn??
     Yupp, bener bangett, pasti LAPAR kann? :D Sapa coba yang nggak butuh makan, hehe..

     Nah, ini nih aku punya beberapa recommended place yang cocok buat kamu-kamu yang pengen memanjakan lidah kalian di saat perut keroncongan atau sekedar pengen ngemil, maupun menjadikan tempat kongkow bareng sahabat, teman, atau someone spesial kalian.

  1. Warung Spesial Sambal
     Di Kota Malang, ada 2 lokasi yang bisa dikunjungi. Warung Spesial Sambal atau yang biasa disebut SS ini ada di Jl. Raya Sengkaling dan Jl. Ciliwung Malang.
Nah, ini dia menu yang aku pesan di SS Ciliwung ini:


     Makan segitu banyaknya untuk 2 orang nggak sampai Rp 50.000 lhoo, soalnya cuman habis Rp 38.000, itu sudah termasuk ppn. Harganya pas di kantong kaann, hihi ^_^

2. Mochi Maco "Kesukaan Para Wanita"
    
    Siapa yang nggak suka sama ice cream coba?? Nah, kalau pengen ngerasain berbagai ice cream dengan varian yang bermacam-macam, ada rasa strawberry, vanilla, oreo, mocha, dll. Ada juga cilok bakar dan goreng dengan berbagai macam bumbu, saus dan tingkat kepedasan yang berbeda, seperti bumbu kacang, barbeque, keju, dll.



    

Ekpedisi Desa Multikultural di Penghujung Semester Tujuh

     Desa Ngadas menjadi pilihan tepat untuk menggali informasi lebih dalam mengenai tradisi unik suku Tengger yang ada di wilayah Jawa Timur. Tiga minggu menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) semester tujuh khususnya International Class Program (ICP) Bahasa Inggris sudah merencanakan agenda untuk penelitian ke sana. Namun, hanya sebelas orang yang ikut serta dalam kegiatan yang dijadikan sebagai bahan untuk menyelesaikan tugas UAS matakuliah Pendidikan Jurnalistik ini.

     Awal bulan Desember, Selasa (3/12) menjadi hari yang paling penting bagi kami untuk melakukan penelitian di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo. Pagi itu, usai shalat shubuh mataku masih terasa berat untuk aku buka lebar-lebar. Tetapi mataku seketika terbelalak saat membaca short message service (SMS) dari sang kapten kelas ICP-ku, Wawan. Dia menginformasikan bahwa teman-teman ICP agar segera berkumpul di depan gedung Microteaching pukul 06.00 WIB supaya tepat pada jam 07.00 WIB kami sudah berangkat dari pasar Tumpang beserta Bapak Abdul Muntholib menuju Ngadas. Akupun bergegas ke kamar mandi, setelah itu segera mengenakan hem lengan panjang Orange serta jilbab yang senada dengan warna bajuku, dan tak lupa memakai jas almamater kampusku tercinta. Akupun berangkat ke kampus dengan keadaan perut yang masih kosong. Dua puluh menit kemudian aku sampai di depan tempat janjian yang telah disepakati teman-teman sekelas. Saat itu, beberapa anak sudah berkumpul, mereka adalah Uswah dan Wawan yang sudah stand by di depan gedung kuliah kami. Beberapa menit kemudian satu per satu teman-temanku berdatangan. Hingga hampir satu jam, kami menunggu teman-teman yang lain untuk berkumpul, tetapi tak kunjung juga datang. Akhirnya waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB, menandakan bahwa rencana berangkat kami molor dari jadwal yang ditentukan. Tetapi hal ini tidak menjadi masalah dan akhirnya kami berangkat dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang menuju pasar Tumpang, tempat Bapak Tholib menunggu kami. Diiringi awan mendung yang menyelimuti langit serta gerimis yang mengguyur pagi itu tak membuat kami merasa patah semangat untuk meneruskan perjalanan panjang kami dalam semester tujuh ini. Kamipun berhenti di POM bensin depan pertigaan Lanud Abdurrahman Saleh untuk mengisi bahan bakar motor yang kami kendarai. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi penelitian yang hendak kami tuju.
     Puluhan kilometer yang telah kami lewati mulai terasa ketika hawa dingin merasuk ke dalam pori-pori kulit yang membuat badan ini menjadi sedikit kedinginan dari suhu sebelumnya. Hawa dingin ini mulai terasa ketika memasuki Desa Gubuk Klakah, Kecamatan Poncokusumo. Pemandangan sawah, ladang, kebun apel, serta pemukiman penduduk mewarnai sepanjang perjalanan kami saat itu. Setelah jauh melewati tempat pemukiman warga, mulai terlihatlah di sebelah kanan kiriku pemandangan bukit, lereng gunung, serta jurang yang dalam. Sebelas orang menggunakan 8 motor beserta Pak Tholib melaju beriringan dan saling berhati-hati dalam berkendara. Dalam hati kecilku, akupun merasa takut ketika sudah memasuki hutan, karena jalan yang kami lalui tak begitu lebar, cukup terjal, masih bebatuan, tetapi setelah itu jalan yang kami lalui sudah mulai pavingan serta menanjak hingga mencapai kemiringan 70⁰. Aku yang saat itu dibonceng oleh mbak Farida sedikit takut, karena ketika dia kagum terpesona akan keindahan pemandangannya, dia menjadi sedikit tidak fokus mengemudikan motornya. Jalan yang sempit, sebelah kanan kiri terlihat jurang, sesekali aku mengatakan kepadanya “mbak Fa, inget lho ya, fokus.. fokus.., jangan liat pemandangan kanan kiri!.”. Motor yang dikendarai mbak Fa ini sempat tidak kuat menanjak, padahal sudah menggunakan gigi 2 sesuai tulisan yang disarankan di papan pinggir jalan yang kami lalui. Alhasil, akupun berinisiatif turun untuk jalan kaki sampai ke tempat yang sekiranya sudah agak tidak menanjak, kemudian aku naik lagi.
     Setelah melewati hutan yang begitu mendebarkan, serta pemandangan yang sempat diselimuti kabut, akhirnya sampai juga di Desa Ngadas pukul 09.12 WIB disambut teriknya matahari yang hanya sebentar memunculkan sinarnya. Kamipun berhenti di depan gapura yang bertuliskan Selamat Datang di Desa Ngadas untuk berfoto sejenak mengabadikan momen dengan pemandangan bukit dan lereng yang indah. Setelah itu kami melaju ke balai desa Ngadas yang hanya berjarak satu kilometer dari gapura tersebut. Setiba di lokasi, rombongan kami disambut dengan senang hati oleh Bapak Mujianto, selaku kepala desa Ngadas. Satu teman dari kami yaitu Fahmi datang terlambat ke lokasi 15 menit setelah kami datang. Warga masyarakat suku Tengger Ngadas saat itu sudah mulai beraktivitas dengan kegiatan mereka masing-masing. Nampak terlihat kebanyakan dari penduduk asli suku Tengger ini memakai sarung dalam kesehariannya, hal ini dikarenakan sudah menjadi budaya masyarakat Ngadas. Memang temperatur suhu di daerah ini sangat dingin melebihi temperatur suhu di Batu, hal ini yang membuat rombongan kami merasa sudah kedinginan pagi itu. Sambil menunggu bapak wakil dukun, bapak Kepala Desa, beserta perangkatnya berkumpul, rombongan kami duduk di depan kantor Kepala Desa Ngadas sambil menikmati camilan yang kami bawa sempat kami beli ketika sampai di Pasar Tumpang.
     Udara yang dingin membuat kami cukup kedinginan, matahari yang bersinar tak lama sempat membantu menghangatkan badan kami meskipun hanya setengah jam, kemudian cuaca kembali lagi mendung dan berkabut. Tepat pukul 10.00 WIB kami memasuki Balai Desa Ngadas yang ketika itu masih dalam proses pembangunan, beberapa menit kemudian acara Talkshow dimulai oleh Pak Tholib selaku dosen kami pengampu matakuliah Pendidikan Jurnalistik. Bapak Mujianto selaku kepala desa Ngadas dan Bapak Ngatono selaku wakil dukun bidang sejarah menjadi pembicara dalam acara ini.
     Bapak Mujianto mengawali topik pembicaraannya dengan menjelaskan bahwa budaya suku Tengger masih dipegang teguh oleh masyarakat Desa Ngadas sampai saat ini. Beliau masih 6 bulan menjabat sebagai kepala desa Ngadas, sejak dilantik pada 29 Mei 2013 lalu. Sosok yang arif bijaksana dalam memimpin, berwawasan luas, serta mempunyai komitmen tidak akan mengubah sedikitpun tradisi suku Tengger Ngadas ini dicalonkan masyarakat Ngadas menjadi kepala desa yang tidak mengeluarkan uang sepeserpun dalam pemilihan kepala desa, karena semua ditanggung oleh masyarakat desa setempat. Hal ini adalah salah satu fenomena yang berbeda dari cara pemilihan umum seperti yang biasa dilakukan. Dalam isi pembicaraan Bapak Mujianto, disebutkan bahwa Desa Ngadas ini berbatasan dengan tiga kabupaten. Yakni sebelah timur adalah Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, sebelah barat yakni Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, sebelah utara yakni Desa Ngadireso, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan sebelah selatan yakni Desa Raupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Beliau menambahkan bahwa Desa Ngadas ini terdiri dari dua dusun, yakni Dusun Ngadas yang berjumlah 1.372 penduduk jiwa, dan Dusun Jarak Ijo yang berjumlah 480 penduduk jiwa, yang kedua wilayahnya mencapai 395 hektar. Jumlah itu di antaranya meliputi lahan pertanian mencapai 381 hektar dan pemukiman penduduk yang hanya 14 hektar. Dari jumlah penduduk tersebut, ada tiga agama yang dianut oleh masyarakat suku Tengger Ngadas, yakni agama Islam, Hindu, dan Budha. Bapak Mujianto menegaskan bahwa dari perbedaan keyakinan inilah yang menjadi pengikat adanya budaya adat yang ada. Beberapa tempat ibadah ada di desa ini, ada tiga masjid, tiga mushalla, satu pura, dan satu wihara.
     Untuk masalah bidang pendidikan, desa Ngadas hanya mempunyai satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), satu Taman Kanak-kanak (TK) Dharma Wanita, dua Sekolah Dasar (SD), dan satu Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 atau biasa disebut SMP satu atap oleh warga sekitar.
Tradisi-tradisi yang ada maupun hasil musyawarah yang dilakukan warga masyarakat Ngadas yang tidak tertulis tetap dijadikan sebagai kebijakan yang ada di desa ini, khususnya masalah keamanan. Misalnya saja jika ada masyarakat yang mencuri rumput, maka dikenakan sanksi dengan membayar satu sak semen diserahkan untuk desa dan satu sak pupuk diserahkan untuk pemilik rumput tersebut. Untuk masalah perzinaan, misalnya jika ada pasangan suami istri yang tertangkap basah melakukan perselingkuhan, maka dikenakan sanksi membayar 100 sak semen diserahkan untuk desa. Jika ada seorang istri selingkuh dengan seorang bujangan, maka masing-masing pihak wajib memberikan 50 sak untuk desa yang digunakan untuk pembangunan desa, seperti perbaikan jalan.
     Pak Mujianto menjelaskan bahwa di Ngadas ini ada tradisi Petekan yaitu semacam tes keperawanan yang dilakukan tiga bulan sekali diperuntukkan bagi perempuan yang masih perawan dan janda. Tradisi ini telah berlangsung sejak 1955 hingga sekarang yang bertujuan untuk mengurangi adanya pergaulan bebas maupun kenakalan remaja yang kerap sekali terjadi saat ini. Di samping itu untuk juga bertujuan untuk mengatur jam bertamu yang dilakukan tidak boleh melebihi jam 9 malam. Jika ada yang melanggar, maka dikenakan sanksi dengan menyapu seluruh wilayah kampung pada pagi hari, serta dikontrol linmas dan hansip. Beberapa gejala alam bisa terjadi dan dapat disimpulkan bahwa ada orang yang hamil di luar nikah, maka imbas yang terjadi adalah ketika orang lain ikut merasakan ngidam, ada juga wabah penyakit yang diserang adalah anak kecil, dan gejala ayam yang berkokok pada jam 8 sampai 11 malam. Dan jika ada yang ditemukan melakukan pengguguran jabang bayi, maka timbul gejala wabah penyakit bahkan ada yang salah satu warga desa tersebut mendadak meninggal dunia.
     Desa Ngadas ini merupakan desa Kedewan, yakni di mana warga masyarakat tidak boleh sembarangan dalam bertingkah laku, maka harus memperhatikan adab, cara bicaranya juga harus ditata, dan tidak boleh srah sroh (kasar).
Dilanjutkan pembicara kedua oleh Bapak Ngatono, selaku wakil mbah dukun bidang sejarah di suku Tengger Ngadas. Beliau mengucapkan salam kepada kami, yaitu salam khas suku Tengger “Hong Mandero Ulun Basuki Langgeng”, yang dijawab dengan “Langgeng Basuki”. Salam ini mempunyai arti bahwa semoga wahai anak Tuhan selamat selama-lamanya.
     Beliau menjelaskan bahwa ada empat belas poin adat yang dibudayakan di Ngadas ini, antara lain yang sebelumnya beliau menyebutkan semboyan masyarakat suku Tengger ini, Becik Ketitik, Tenger Ketenger, Ala Ketara, Goroh Growah. Ini mempunyai arti bahwa segala perbuatan yang salah dan benar maka akan segera terlihat benar salahnya seiring berjalannya waktu. Keempat belas poin budaya ini antara lain: pertama, budaya unggah ungguh (sopan santun) yang harus senantiasa terjaga di dalam kehidupan sehari-hari warga masyarakat suku Tengger. Kedua, budaya kerukunan di dalam berumah tangga, misalnya bagaimana menciptakan suasana di lingkungan rumah tangga agar tetap rukun dan exist, dengan rasa welas asih. Ketiga, Budaya welas asih, misalnya yang dilakukan warga ketika ada seorang tetangga yang meninggal, maka seluruh warga tidak beraktivitas pada pekerjaan masing-masing, melainkan berbela sungkawa ke rumah duka dengan membawa barang atau jasa tenaga untuk membantu pihak keluarga yang ditinggalkan. Keempat budaya ritual pribadi, budaya ini meliputi tradisi saat hendak kelahiran seseorang, dengan mengadakan acara 7 bulanan disertai pembacaan mantra saat mengubur ari-ari jabang bayi. Kemudian saat terjadi kematian seseorang, maka warga masyarakat merituali leluhur yang sudah meningggal yang dinamai “entas-entas”. Kelima, budaya ritual umum, yakni upacara-upacara seperti bujang yang dilakukan di rumah dukun, upacara Karo dilakukan satu tahun sekali di rumah kepala desa, upacara unan-unan dilakukan 5 tahun-6 tahun yang dilakukan di rumah kepala desa setempat. Keenam, budaya disik secara pribadi, yakni meliputi pembangunan rumah. Ketujuh, budaya fisik secara umum, seperti pada pembangunan jalan, sekolah, balai desa, mengambil air di sungai juga harus melalui ritual. Kedelapan, budaya berbusana “nyandhang nganggo”, laki-laki mengenakan baju hitam potongan kerah duduk, dan memakai selembar udeng, serta wanita memakai jarik sekar jagad. Kemudian budaya gotong royong, budaya keamanan, budaya kesenian yakni jaran joget, seni ujung, dan tayub. Begitulah sekilas penjelasan dari bapak wakil dukun suku Tengger Ngadas. Beberapa mahasiswa rombongan kami diberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada bapak-bapak tersebut guna menggali dan mendapatkan informasi yang sangat berguna bagi kami.
     Dua jam berlalu begitu cepat, karena jam sudah menunjukkan pukul 12.05 WIB. Itulah tandanya kami harus segera pulang. Sebelum pulang, kami semua mengucapkan terima kasih kepada bapak Kepala Desa beserta perangkatnya karena telah menerima kami dengan senang hati. Tak lupa kami menyempatkan untuk berfoto bersama beliau-beliau.
     Perjalanan pulangpun diiringi dengan kabut tebal yang tetap dengan suhu udaranya yang masih sangat dingin membuat kami kedinginan. Kami selalu tetap berhati-hati dan waspada dengan jalan yang berliku-liku.
     Sesampai di kota Malang, tepat pukul 15.00 WIB. Kamipun pulang menuju rumah masing-masing dengan sangat lelah. 


Jumat, 09 Maret 2012

Pantaskah Kita Mengeluh ?

Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin.....”Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki,cukup Ku berkata “Jadi”,maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

Ketika kita mengeluh : “Capek banget gw....”Allah menjawab : “...dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba :9)

Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah, gak sanggup rasanya...”Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)

Ketika kita mengeluh : “Stressss nih...Panik...”Allah menjawab : “Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang”. (QS.Ar-Ro’d :28)

Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh... ini mah semua bakal sia-sia..”Allah menjawab :”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun,niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al-Zalzalah :7)

Ketika kita mengeluh : “Gile aje..gw sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin...”Allah menjawab : “Berdoalah (mintalah) kepadaKU,niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)

Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh gw...”Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)

kita semua yg mulai galau atas perhatian Allah yg serasa jauh dari kita padahal sebaliknya Allah dekat selalu (QS. Al-Baqarah 186)..

Rabu, 25 Januari 2012

Manajemen Tata Lingkungan Sekolah yang Kondusif

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Suatu inovasi tentang sekolah sebagai tempat terbaik untuk belajar merujuk pada penciptaan sekolah hijau yaitu sekolah sebagai tempat yang asri dan menyenangkan yang berdampak pada peningkatan gairah belajar siswa, menciptakan iklim akademis yang kondusif dan meningkatkan citra sekolah. Coba kita rasakan perbedaannya tinggal di kampus yang gersang, kering tanpa pepohonan, berdebu dan tak sedikitpun asesoris keindahan di dalamnya dengan berada pada situasi sekolah yang rindang, tumbuh pepohonan yang melindungi dan tertata estetik ditambah aroma kesegaran dari bunga-bunga alam yang mempesona serta lingkungan yang tertata apik dan rapih membuat orang segan dan tak rela membuang sampah permen sekalipun. Tentu situasi yang kedua jauh membuat orang betah tinggal berlama-lama dan kondisi ini sangat mendukung bagi berkembangnya situasi belajar mengajar yang diinginkan.
Tampilan fisik sekolah ditata secara ekologis sehingga menjadi wahana pembelajaran bagi seluruh warga sekolah untuk bersikap arif dan berprilaku ramah lingkungan. Program pendidikan dikemas secara partisipatif penuh, percaya pada kekuatan kelompok, mengaktifkan dan menyeimbangkan feeling, acting, dan thinking, sehingga tiap individu bisa merasakan nilai keagungan inisiasinya. Bahwa sebenarnya memahami makna green school yang seharusnya adalah “berbuat untuk menciptakan kualitas lingkungan sekolah yang kondusif, ekologis, lestari secara nyata dan berkelanjutan, tentunya dengan cara-cara yang simpatik, kreatif, inovatif dengan menganut nilai-nilai dan kearifan budaya lokal”.(Sugeng Paryadi, 2008).


1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud manajemen?
2. Apa saja prinsip-prinsip tata sekolah yang baik?
3. Bagaimana manajemen tata lingkungan sekolah yang kondusif?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari manajemen
2. Mengetahui prinsip-prinsip tata sekolah yang baik
3. Mengetahui bagaimana manajemen tata lingkungan sekolah yang kondusif



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Manajemen

Setiap ahli memberi pandangan yang berbeda tentang batasan manajemen, karena itu tidak mudah memberi arti universal yang dapat diterima semua orang. Namun demikian dari pikiran-pikiran ahli tentang definisi manajemen kebanyakan menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses tertentu yang menggunakan kemampuan atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang di dalam pelaksanaannya dapat mengikuti alur keilmuan secara ilmiah dan dapat pula menonjolkan kekhasan atau gaya manajer dalam mendayagunakan kemampuan orang lain.
Berikut ini merupakan definisi manajemen dari beberapa ahli yang mencerminkan ketiga focus tersebut :
 Encyclopedia of the social science (1957) management may be defined as the process by which the execution of a given purpose is put into operation and supervised.
 Stoner (1992:8) manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
 Management is a process of planning, organizing, directing and monitoring the efforts of members of the organization and use of other organizational resources to realize predetermined organizational goal.
 Management is the art and science of organizing and directing human effort applied to control the forses utilize the materials of nature for the benefit of man.
Dengan demikian manajemen merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain dalam upaya mencapai tujuan organisasi secara produktif.

2.2 Prinsip-prinsip Tata Sekolah yang Baik

Manajemen Berbasis Sekolah ditujukan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian wewenang dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola sekolah yang baik yaitu partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas, efektifitas, produktifitas, dan inovasi pendidikan.
a. Peningkatan Partisipasi
Partisipasi adalah proses dimana stakeholders (warga sekolah dan masyarakat) terlibat aktif baik secara individual maupun kolektif, secara langsung maupun tidak langsung, dalam pengambilan keputusan, pembuatan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan/pengevaluasian pendidikan sekolah.
Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratis, dimana warga sekolah (guru, siswa, karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, usahawan, dan sebagainya) didorong untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari pengambilan keputusan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa jika seseorang dilibatkan dalam penyelenggaraan pendidikan, maka yang bersangkutan akan mempunyai “rasa memiliki” terhadap sekolah, sehingga yang bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. Singkatnya, makin besar tingkat partisipasi, makin besar pula rasa memiliki, makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa tanggungjawab, dan makin besar rasa tanggungjawab, makin besar pula dedikasinya. Tentu saja melibatkan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian, batas kewenangan, dan relevansinya dengan tujuan partisipasi.
Peningkatan partisipasi dalam penyelenggaraan sekolah mempunyai beberapa tujuan yang berguna untuk menyukseskan pelaksanaan MBS. Tujuan dari peningkatan partisipasi dalam pelaksanaan MBS adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan dedikasi/kontribusi stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah, baik dalam bentuk jasa (pemikiran, keterampilan), moral, financial, dan material/barang;
2. Menggunakan kemampuan yang ada pada stakeholders bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional;
3. Meningkatkan peran stakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan sekolah, baik sebagai advisor, supporter, mediator, controller, resource linker, and education provider.
4. Menjamin agar setiap keputusan dan kebijakan yang diambil benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders dan menjadikan aspirasi stakeholders sebagai panglima bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah (Depdiknas, 2006 : 13).

b. Peningkatan Transparansi

Dalam ruang lingkup sekolah, transparansi adalah keadaan dimana setiap orang yang terkait dengan kepentingan pendidikan dapat mengetahui proses dan hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. Keterbukaan/transparansi merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai melalui MBS. Keterbukaan/transaransi ini ditunjukkan dalam semua kegiatan yang dilakukan sekolah yang meliputi pengambilan keputusan, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, penggunaan uang, dan sebagainya.
Dengan kata lain, transparansi merupakan sebuah sistem yang memungkinkan terselenggaranya komunikasi internal dan eksternal dalam dunia pendidikan. Transparansi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi yang secara langsung dapat diterima oleh stakeholders pendidikan. Kebebasan informasi ini harus dapat dipahami dan dimonitor sehingga penggunaannya benar-benar ditujukan untuk pencapaian tujuan. Dalam beberapa tulisan mengenai MBS, para pengamat pendidikan beranggapan bahwa masalah transparasi merupakan isu kunci keberhasilan MBS dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Para pengamat pendidikan beranggapan bahwa selama ini, terutama sebelum era desentralisasi dan reformasi, pengelolaan pendidikan di banyak sekolah sangat tertutup bagi pihak luar. Masyarakat, orangtua murid dan sebagian besar guru tidak banyak mengetahui seluk beluk pengelolaan pendidikan di sekolah, tidak mengetahui pendapatan dan belanja sekolah, tidak dilibatkan di dalam mengevaluasi kekuatan dan kelemahan kinerja sekolah dan sebagainya.
Pengelolaan yang tidak transparan berdampak negatif bagi pengembangan sekolah karena masyarakat dan orangtua murid akan meragukan apakah kalau mereka diminta untuk ikut memikirkan kekurangan pendanaan pendidikan, sumbangan yang mereka berikan akan benar-benar dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan atau akan terjadi penyimpangan yang tidak diharapkan.

c. Peningkatan Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggaraan organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau wewenang untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.
Dengan demikian, akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah, orangtua siswa, dan masyarakat. Berdasarkan laporan hasil program ini, pemerintah dapat menilai apakah program MBS telah mencapai tujuan yang dikehendaki atau tidak. Jika berhasil, maka pemerintah perlu memberikan penghargaan kepada sekolah yang bersangkutan, sehingga menjadi faktor pendorong untuk terus meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang. Sebaliknya jika program tidak berhasil, maka pemerintah perlu memberikan teguran sebagai hukuman atas kinerjanya yang dianggap tidak memenuhi syarat.
Pada dasarnya, pengertian akuntabilitas yang diberikan oleh Slamet tidak hanya berupa pertanggungjawaban administratif keuangan saja, tetapi mencakup pula penggunaan/pemanfaatan, dan hasil kinerjanya. Sebagai contoh kalau sekolah membeli buku pelajaran, tidak cukup hanya menunjukkan bukti kwitansi pembelian dan tersedianya buku yang dibeli. Akuntabilitas mencakup harga buku yang wajar, kualitas buku yang dibeli, penggunaan buku secara efektif dan hasil belajar siswa.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa partisipasi, transparansi, akuntabilitas adalah sebuah kesatuan yang saling berkaitan. Peningkatan partisipasi harus diikuti peningkatan transparansi dan kemudian akan diikuti peningkatan akuntabilitas yang mempengaruhi tujuan.
Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu prasyarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan dapat dipercaya. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada publik. Selain itu, tujuan akuntabilitas adalah untuk menilai kinerja sekolah dan kepuasan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah, untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan, dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pendidikan kepada publik (Depdiknas dalam Panduan Manajemen Berbasis Sekolah).

2.3 Manajemen Tata Lingkungan yang Kondusif

Dalam analisis strategi lingkungan sekolah/madrasah yang kondusif, hal-hal yang perlu dicermati dan ditelaah oleh penyusun rencana kerja sekolah/madrasah adalah lingkungan strategis sekolah/madrasah, yang meliputi lingkungan sosial ekonomi baik masyarakat sekitar sekolah/madrasah maupun orangtua siswa di sekolah/madrasah tersebut, budaya masyarakat, regulasi pemerintah daerah yang memiliki dampak secara langsung maupun tidak langsung dalam mempengaruhi perkembangan dan peningkatan mutu sekolah/madrasah. Karena itu, setelah menelaah analisis kondisi lingkungan pada masing-masing sekolah/madrasah perlu dijabarkan hal-hal dan implikasinya bagi perkembangan sekolah/madrasah.

2.3.1 Manajemen Tata Lingkungan Sekolah

Salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam tata lingkungan disekolah adalah Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang baik maka sekolah harus membuat manajemen lingkungan sekolah berbasis pendidikan lingkungan hidup. Pendidikan lingkungan hidup (PLH) ini dapat diterapkan disekolah dalam kurikulum pelajaran. Sehingga lebih terintegrasi dan bisa dijalankan dan dievaluasi. Sistem/standar pengelolaan PLH pada pendidikan dasar dan menengah pada hakekatnya belum ada. Hal ini dapat diketahui berdasarkan hasil observasi langsung pada sekolah, implementasi PLH di sekolah dapat dibuat untuk membentuk pola pengembangan PLH pada pendidikan dasar dan menengah dalam mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan. Hal ini dapat dilakukan melalui upaya-upaya sebagai berikut berikut : Manajemen PLH di sekolah dapat dilakukan dengan mengacu pada prinsip dan elemen ISO 14.001 yang meliputi Plan, Do, Check, dan Action. Hal ini juga sejalan dengan peningkatan pengelolaan sekolah (School Based Manajemen) dalam meningkatkan mutu pengelolaan sekolah secara mandiri. Sedangkan prinsip dan elemen pelaksanaan pengelolaan PLH di sekolah dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Kebijakan PLH di sekolah
Menurut SML – ISO 14001, kebijakan lingkungan adalah pernyataan oleh organisasi tentang keinginan dan prinsip-prinsipnya berkaitan dengan kinerja lingkungan secara keseluruhan yang memberikan kerangka untuk tindakan dan untuk penentuan sasaran dan target (objectives and targets). Manjemen puncak, dalam hal ini kepala sekolah, menetapkan kebijakan pendidikan lingkungan hidup sekolah, struktur dan tanggung jawab.
2. Perencanaan (plan)
Dalam melakukan perencanaan pengelolaan lingkungan di sekolah diperlukan identifikasi aspek lingkungan, identifikasi peraturan perundang-undangan, penetapan tujuan dan sasaran lingkungan sekolah serta penetapan program lingkungan untuk pencapaiannya.
3. Pelaksanaan (do)
Untuk menerapkan (do) PLH pada sistem ini, organisasi mengembangkan kemampuan dan mekanisme yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan, dan sasaran PLH di sekolah. Mekanisme prinsip penerapan yang dibangun seperti disyaratkan, terdiri dari tujuh elemen, yaitu: (1) struktur dan tanggungjawab; (2) pelatihan, kepedulian dan kompetensi, (3) komunikasi; (4) dokumentasi dan pengendaliannya; (5) kesiagaan dan tanggap darurat.
4. Pemeriksaan dan Tindakan Perbaikan
Pemeriksaan dan tindakan koreksi dilaksanakan oleh organisasi untuk mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja lingkungan sekolah. Kinerja PLH di sekolah dapat diukur melalui pengintegrasian materi lingkungan hidup dalam kegiatan:
a. Kurikulum
Pengintegrasian PLH dalam kegiatan kurikuler mempunyai arti bahwa PLH tidak merupakan suatu mata pelajaran/bidang keahlian baru tetapi materi lingkungan hidup terintegrasi ke dalam mata pelajaran atau program yang relevan atau sesuai. Cara mengintegrasikan PLH dalam kegiatan kurikuler dimulai dari menganalisis kemampuan/sub kemampuan setiap bidang keahlian/program keahlian sampai menghasilkan suatu materi kejuruan yang berkaitan dengan materi lingkungan hidup. Kegiatan ini dilakukan agar siswa mempunyai kompetensi atau sikap profesional sesuai bidang keahlian yang dimilikinya dan sejalan dengan tuntutan pembangunan yang berkelanjutan.
b. Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler seperti 7 K yang mencakup keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, kekeluargaan, kerindangan, dan kesehatan merupakan suatu wadah yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan materi lingkungan kepada siswa dalam kegiatan konkret. Kegiatan konkret tersebut dapat dilakukan pada perayaan hari internasional, nasional, dan lokal dengan membahas masalah lingkungan global, nasional dan lokal yang sedang terjadi, gerakan kebersihan lingkungan sekolah, pasar, perumahan, gerakan penggunaan sepeda, jalan kaki, bus umum, lomba karya ilmia, kampanye lingkungan, dan lain sebagainya sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungan sekolah dan masyarakat. Pelaksanaan pengintegrasian materi lingkungan hidup pada kegiatan ektrakurikuler dapat memilih metode dan media sesuai dengan kondisi lapangan. Kegiatan ini diarahkan untuk membentuk sikap dan perilaku siswa dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
c. Penampilan Sekolah
Dalam mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan (sekolah yang menanamkan nilai-nilai lingkungan hidup kepada seluruh warga dan masyarakat sekitarnya) dapat dikembangkan untuk mengantisipasi berbagai macam persoalan lingkungan, khususnya kegiatan yang memiliki dampak atau akibat aktivitas kegiatan belajar mengajar yang ada di sekolah. Penampilan sekolah berbudaya lingkungan secara umum dapat dinilai dari adanya : 1) Penerapan hemat energi 2) Manajemen/ pengelolaan pemisahan sampah 3) Pengelolaan air bersih dan kotor 4) Pengelolaan emisi/ gas buang 5) Penghijauan 6) dan lain-lain.
d. Sikap dan perilaku warga sekolah
Sikap dan perilaku warga sekolah terhadap lingkungan hidup merupakan nilai yang paling penting dalam mewujudkan Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL). Pelaksanaan PLH di sekolah mempunyai sasaran meningkatkan kepedulian seluruh warga sekolah (kepala dan wakil sekolah, tenaga administrasi, guru, dan siswa) terhadap lingkungan. Standar penilaian dapat dibuat sesuai kebutuhan sekolah. Sebagai contoh untuk menilai sikap dan perilaku siswa dengan kategori baik atau jelek dapat dilihat dari penampilan kelasnya. Jika kelas siswa kelihatan kotor, apakah akibat banyak kertas berserakan dan banyak coretan di dinding, kelasnya dapat dinilai bahwa siswa tersebut belum memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Demikian juga bagi guru, tenaga administrasi, dan kepala sekolah dapat dinilai dari ruang kerja masing-masing unit. Sedangkan mengukur keberhasilan (sikap dan perilaku) sekolah dalam mewujudkan SBL dapat dinilai seluruh unsur (warga) yang ada di sekolah.
5. Tinjauan Ulang Manajemen
Hasil dari proses pemeriksaan dan tindakan koreksi tersebut dijadikan masukan bagi manajemen dalam menerapkan prinsip pengkajian dan penyempurnaan, yaitu berupa kajian ulang manajemen yang dilaksanakan organisasi setiap enam bulan/satu tahun sekali, atau bila dianggap perlu.
Berikut ini adalah gambaran pengelolaan PLH. Pengolahan lingkungan sekolah dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam pengelolaan air, sampah, energi dan halaman sekolah dan tata ruang kelas.
1. Pengelolaan Air di Sekolah
Kita dapat membayangkan apabila di sekolah kekurangan air bersih! Tentunya sekolah menjadi kotor karena jarang atau tidak pernah dibersihkan, kamar mandi mengeluarkan bau yang tidak sedap, dan merasa tidak nyaman atau kesulitan bila kita hendak ke WC. Akibatnya lingkungan sekolah menjadi tidak sehat sehingga dapat mengganggu kenyamanan belajar.
Ketersediaan air bersih disekolah sangat diperlukan dalam jumlah yang relatif banyak. Hal ini mengingat jumlah warga sekolah yang terdiri dari siswa, guru, dan karyawan dapat mencapai ratusan orang. Sehinga kebutuhan air bersih akan lebih banyak lagi. Jenis kebutuhan air di sekolah adalah untuk minum, membersihkan lantai, membersihkan WC, mencuci peralatan laboratorium dan menyiram tanaman.
Sumber air bersih yang digunakan bagi pemenuhan kebutuhan warga sekolah dapat berasal dari air PDAM, sumur gali, sumur pompa, atau sumber mata air yang dialirkan bagi sekolah-sekolah yang terletak di pegunungan. Untuk mengurangi keterbatasan air bersih disekolah, dapat dilakukan dengan upaya penghematan melalui penentuan prioritas. Misalnya, air bersih hanya digunakan untuk minum dan mengisi bak mandi, sedangkan untuk keperluan lainnya seperti membersihkan WC, membersihkan lantai dan menyiram tanaman gunakanlah air yang berasal dari bak-bak penampungan air hujan.
Karena itu sekolah perlu menyediakan bak-bak penampungan air hujan, baik berupa kolam maupun sumur-sumur resapan. Sumber air yang mengisi kolam maupun sumur resapan sebaiknya berasal dari air hujan yang jatuh dari atap bangunan sekolah atau dari air bekas wudhu dan cuci tangan. Kemudian dialirkan melalui saluran pipa-pipa yang menuju kolam maupun sumur resapan, sehingga airnya masih bersih belum bercampur lumpur.
Sekolah-sekolah yang berada di negara-negara maju umumnya sudah memiliki teknologi pengelolaan air limbah. Sehingga air bersih yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan sekolah tidak berasal dari sumbernya, akan tetapi menggunakan kembali air yang sudah dipakai melalui teknologi air limbah.
Teknologi pengolahan air limbah yang digunakan tentu sangat mahal harganya. Negara kita belum mampu memenuhi hal itu, apalagi diadakan di sekolah-sekolah yang jumlahnya sangat banyak. Ada caranya sebenarnya lebih murah untuk mengatasi keterbatasan air bersih di sekolah yang dapat kalian lakukan. Cara tersebut adalah dengan melakukan penghematan air saat pamakaian dan selalu menutup kran air apabila terlihat terbuka sehingga air tidak terbuang percuma.
2. Pengelolaan Sampah di Sekolah
Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti cara-cara yang baik dan benar. Apa pentingnya pengelolaan sampah di sekolah? Pada prinsipnya semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka pengelolaannya akan semakin mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit.
Tahapan-tahapan pengelolaan sampah di sekolah adalah :
a. Pencegahan dan pengurangan sampah dari sumbernya. Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik di setiap kawasan sekolah.
b. Pemanfaatan kembali sampah terdiri atas :
1. Pemanfaatan sampah organik, seperti komposting (pengomposan) sampah yang mudah membusuk dapat diubah manjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dengan melakukan kegiatan composting sampah organik yang komposisinya mencapai 70 % dapat direduksi hingga mencapai 25 %.
2. Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangakan pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.
3. Tempat pembuangan sampah akhir. Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan komposting maupun pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai + 10 % harus dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir $28TPA) di sekolah.
Selain itu untuk menciptakan suatu kondisi sekolah yang sehat, sekolah harus memenuhi kriteria, antara lain kebersihan dan ventilasi ruangan, kebersihan kantin, WC, kamar mandi, tempat cuci tangan, melaksanakan pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan, bimbingan konseling dan manajemen peran serta masyarakat.

3. Pengelolaan Energi di Sekolah
Penggunaan energi di sekolah sangat penting agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Penggunaan energi di sekolah biasanya untuk menerangi ruangan-ruangan, menyalakan barang-barang eletronik seperti komputer dan media pembelajaran, mengalirkan pompa air, dll.
Terhadap fasilitas umum seperti sekolah, hendaknya kita bersama-sama bertanggung jawab untuk memelihara dan menghemat pada saat pemakaiannya. Banyak cara yang dapat kalian lakukan dalam rangka pengelolaan energi disekolah, misalnya melalui penggunaan cahaya matahari untuk menerangi ruangan-ruangan belajar di kelas, perpustakaan, laboratorium, dll. Menghemat pemakaian air karena dialirkan menggunakan listrik, mematikan lampu-lampu yang masih menyala saat siang hari. Mematikan alat-alat elektronik seperti komputer dan televisi saat sedang tidak digunakan.

4. Pengelolaan Ruang Kelas
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak leluasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam masalah penataan ruang kelas ini beberapa hal yang perlu mendapatkan pembahasan adalah masalah pengaturan tempat duduk, pengaturan alat-alat pengajaran, penataan keindahan dan kebersihan kelas, dan ventilasi serta cahaya.

5. Pengelolaan Halaman Sekolah
Sekolah sebagai tempat belajar perlu memiliki lingkungan yang bersih dan sehat agar tercipta suasana belajar yang nyaman. Kita bisa membayangkan apabila sekolah kita kotor dan tidak sehat, tentu sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Pastikan ruangan kelas kalian bersih dari sampah, debu dan bau yang tidak sedap. Bahkan kalian bisa menambahkannya dengan wangi-wangian dan tanaman hidup dalam pot.
Lingkungan sekolah yang bersih dan sehat tidak hanya di dalam kelas tetapi juga diluar kelas, seperti di halaman. Halaman sekolah selain di tata keindahannya, juga perlu memperhatikan persyaratan kesehatan. Halaman sekolah yang tidak sehat dapat menimbulkan berbagai macam penyakit sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi semua warga sekolah.

2.3.2 Manajemen Keamanan Sekolah

Menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan disiplin sangatlah penting agar siswa dapat mencapai prestasi yang terbaik dan guru dapat menampilkan kinerja yang terbaik Untuk mewujudkan sekolah yang aman perlu dilakukan beberapa langkah. Pertama, sekolah harus membentuk komite yang terdiri dari berbagai stakeholders, yaitu masyarakat sekitar sekolah, orang tua, guru, kepala sekolah komite sekolah dan siswa. Dengan melibatkan semua fihak diharapkan komite dapat memperjatam pemahaman dan kesepakatan tentang apa yang perlu dilakukan. Melibatkan keahlian yang terdapat di masyarakat, seperti anggota kepolisian atau ABRI sangatlah penting. Keterlibatan orang tua juga sangat penting agar hal-hal yang menjadi keprihatinan siswa dapat didengar dan diselesaikan. Selain itu stakeholders yang lain perlu dilibatkan agar dapat didengar bagaimana pengalaman mereka sehubungan dengan mewujudkan sekolah yang aman.
Tugas pertama dari komite ini adalah melakukan needs assessment mengenai keadaan sekolah saat ini ditinjau dari segi keamanan. Berdasarkan penilaian awal ini, komite dapat memperoleh pengetahuan mengenai kekuatan dan kelemahan sekolah dalam hal keamanan.
Kedua, untuk meningkatkan keamanan sekolah, upaya harus difokuskan pada bangunan fisik sekolah, tata letak dan kebijakan dan prosedur yang ada untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dan menyelesaikan masalah yang mungkin timbul. Bangunan sekolah, kelas, ruang lab, kantor, perpustakaan, lapangan olah raga dan halaman sekolah harus direview. Selain itu, berbagai kebijakan dan prosedur juga akses masuk sekolah harus dinilai kembali. Penggunaan teknologi untuk mencegah orang masuk penyusup masuk dari luar seperti alarm, pagar, teralis harus dipertimbangkan. Pencegahan ini harus distandarkan oleh sekolah dan standar-standar lain untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan harus dibuat seperti membawa benda-benda tajam atau benda-benda lain yang berbahaya. Jalur komunikasi dan prosedur yang harus diikuti bila terjadi kejadian pencurian atau pelanggaran lainnya harus dibuat.
Usaha lain adalah adanya penjaga sekolah (satpam), pembentukan Patroli Keamanan Sekolah (PKS), Menwa (Resimen Mahasiswa) di tingkat perguruan tinggi, atau yang sejenisnya.
Hubungan manusiawi yang diwujudkan dalam sikap menghormati, saling membantu, bekerja sama atau saling bersedia melakukan pendekatan adalah sikap yang tidak saja diperlukan bagi kegiatan belajar bersama tetapi juga berguna bagi kehidupan bersama di masyarakat sekarang dan masa yang akan datang.

2.3.3 Ciri-ciri Lingkungan Sekolah yang Kondusif

Adapun ciri-ciri untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif yaitu dengan memperhatikan beberapa aspek berikut :
1. Tata ruang kelas lebih lapang
Dalam artian jumlah siswa dalam kelas yang tidak melebihi kapasitas standar kelas kurang lebih 30 siswa.

2. Kebersihan kelas dan sarana interior kelas yang memadai.
Sarana dalam kegiatan belajar mengajar yang cukup nyaman akan menjadikan para siswa lebih jonsentrasi untuk menerima pelajaran.

3. Cara mengajar guru yang lebih mengacu pada kurikulum.
Maksudnya adalah guru lebih memperhatikan kebiasaan para siswa dan dapat menambah minat belajar siswa. Mungkin dengan siapa memberikan tugas-tugas yang berbeda-beda pada setiap siswa atau memberikan permainan-permainan kecil saat proses pelajaran.

4. Dengan cara pengelolaan sekolah dari kepala sekolah itu sendiri.
Maksudnya apakah kepala sekolah akan mengambil tindakan tegas bagi setiap tindakan di sekolah atau tidak. Maupun dari cara berpikir seorang pemimpin, controlling, monitoring, dan leading sekolah itu dengan baik.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari paparan makalah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
a. Manajemen merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain dalam upaya mencapai tujuan organisasi secara produktif.
b. Llingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan tentram sangat mempengaruhi belajar peserta didik. Maka untuk mewujudkan tercapainya iklim proses pendidikan yang kondusif harus diciptakan tata lingkungan dan suasana aman yang mendukung.
c. Salah satu usaha untuk mewujudkan hal tersebut adalah menerapkan program pendidikan lingkungan hidup (PLH) di sekolah. Dengan adanya PLH ini diharapkan siswa bisa berpartisipasi dalam mewujudkan lingkungan sekolah khususnya dan lingkungan alam pada umumnya. Agar program PLH ini bisa berjalan maka harus diterapkan dalam kurikulum pelajaran di sekolah.
d. Manajemen PLH di sekolah dapat dilakukan dengan mengacu pada prinsip dan elemen ISO 14.001 yang meliputi Plan, Do, Check, dan Action. Hal ini juga sejalan dengan peningkatan pengelolaan sekolah (School Based Manajemen) dalam meningkatkan mutu pengelolaan sekolah secara mandiri. Sedangkan prinsip dan elemen pelaksanaan pengelolaan PLH di sekolah dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: Kebijakan PLH di sekolah, Pelaksanaan (do), pelaksanaan (do), pemeriksaan dan tindakan perbaikan, dan tinjauan lulang managemen.
e. Usaha lain untuk mewujudkan sekolah yang aman adalah melengkapi sekolah alat-alat keamanan sekolah. Alat-alat pengamanan sekolah bisa berupa individu(penjaga sekolah/satpam), organisasi (PKS, Menwa),alat-alat pengintai(CCTV), maupun tata bangunan yang memenuhi syarat keamanan.


DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, 2009. Manajemen Pendidikan, Bandung : Penerbit Alfabeta.
Marno, dkk. 2008. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung : PT Refika Aditama.
Nawawi, Hadari. 1989. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta : CV Haji Masagung.
Muhaimin, dkk. 2010. “Manajemen Pendidikan” Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. Jakarta : Kencana.
Effendi, Moehtar. 1996. Manajemen Suatu pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam. Jakarta : Bhatara.
http://kangchoy87.blogspot.com/2011/06/makalah-administrasi.html
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14916/1/09E01101.pdf

Pesantren Educational System and Social Transformation

CHAPTER I
INTRODUCTION
1.1 Background

Since colonial times, Pesantren and Madrasah Diniyah an educational institution that grow and thrive in the midst of society. Existence of these two institutions have long received public recognition. Both are involved in the effort to make the life of the nation, and not only in terms of morale, but has also participated as well as providing a significant contribution in providing education. Religious institutions can be shaped education track or path outside of school education.
As an educational institution that has long been developing in Indonesia, in addition to the Pesantrenhas managed to nurture and develop the religious life in Indonesia, also had a role in instilling a sense of nationhood into the soul of the people of Indonesia, as well as actively participate in efforts to educate the nation..
In terms of historical, Pesantrenis the oldest form of indigenous educational institutions in Indonesia. Pesantrenhas been known long before Indonesia became independent, bahakan since Islam arrived in Indonesia continues to grow and develop in line with the development of education in general.

1.2 Problem formulation
1. What is pesantren?
2. How does the history of the founding of pesantren?
3. What are the elements of pesantren?
4. What are the typology of pesantren?
5. How learning methods in pesantren?
6. How the transformation of pesantren in the modern era?

1.3 Purpose
1. Knowing what is meant by pesantren
2. Knowing the history of the founding of pesantren
3. Knowing the elements of pesantren
4. Knowing the typology of pesantren
5. Knowing the methods of learning in pesantren
6. Knowing the transformation of pesantren in the modern era


CHAPTER II
DISCUSSION

2.1 Definition of Pesantren

Before the 60's, educational centers pesantren in Java and Madura, better known by the name of the cottage. The term probably originated from the notion cottage dormitories, the students called a lodge or shelter made of bamboo, or perhaps derived from the Arabic word "funduq" which means a hotel or hostel. Pesantren in the course of its history has been the object of Western scholars who studied Islam. Pesantren derived from the word "students" who got pe prefix and suffix's, meaning the abode of the students. Professor Johns argues that the term comes from the Tamil language students, which means the teacher of the Koran, while CC Berg argues that the term is derived from the term that Shastri in India means a person who knows the sacred books of Hinduism, or a scholar of Hindu scriptures expert. Shastri word comes from the word shastra which means holy books, religious books or books about science.
Viewing from the function and usefulness of Islamic boarding schools as an educational institution that has a distinctive characteristic, then in other areas (outside Java) living Islamic institutions that have the same functionality and benefits with different names, for example meunasah in Aceh, surau in Sumatra, rangkang in Borneo. In fact, according to other experts known as the shrine where the bangunannyaterpencil from the crowd and circular learning system that is now known as bandongan.
In the Indonesian dictionary is defined as a Pesantrendormitory where students or where students learn the Koran. While in terms of Islamic boarding schools are educational institutions where the students used to live in the cottage (dormitory) with teaching material of classical books and general books aim to master the details of Islamic religious knowledge and practice as guidelines for daily living by emphasizing the importance of moral in the life community.
Pesantren is a religious institution which has its own peculiarities and different from other educational institutions. Education in Islamic boarding schools include education, preaching, community development and other similar education. Learners in schools are generally referred to students living in boarding schools. The place where the students lived in Pesantrenenvironments, referred to as cottages. From this, it called by Islamic Boarding Schools.

2.2 History of Establishment of Pesantren

Tracing the growth and development of institutions of Islamic education in Indonesia, including the early establishment of boarding schools and madrasas diniyah, not apart relation to the history of Islam in Indonesia. Islamic education in Indonesia began when the people who converted to Islam would like to know more content embraced the new religion, either on procedures for worship, reading the Qur'an, and Islamic knowledge is wider and deeper. They are learning at home, mosque, broken, or mosque. In places these people who are new to Islam and their children learn to read the Koran and other religious sciences, individually and directly.
New Pesantrenin Indonesia known existence and its development after the 16th century. The works of such classical Javanese Cabolek fibers and fiber found Centini reveals institutions that teach a variety of books in the field of classical Islamic jurisprudence, Sufism, and became centers of Islamic broadcasting, namely Islamic boarding schools.
History of education in Indonesia censure, that the Pesantrenis the oldest form of indigenous educational institutions in Indonesia. There are two opinions regarding the initial establishment of boarding schools in Indonesia. The first opinion stated that the Pesantrenrooted in the tradition of Islam itself and the second opinion said that the education system of the Pesantrenmodel is native to Indonesia.
Since the beginning of its growth, the main purpose of the Pesantrenis 1. Preparing students explore and master the science of the Islamic religion, or better known as tafaqquh fid-din, which is expected to print a cadre of scholars and also educating the people of Indonesia, followed by task 2. Da’wah spread about Islam and 3. Bastion of the people in the field of morals. Due to the times and demands, the Pesantrenpurposes was increased due to a significant role, the purpose of it is 4. Work to improve community development in various sectors of life.
With the system that called pesantren, the internalization process of Islamic teachings to students can walk in full. In boarding schools, with the leadership and exemplary clerics and religious teacher seta typical management will create a distinctive community, in which there are all aspects of life such as economics, culture, and organizational.

2.3 The Elements of Pesantren

2.3.1 Boarding

Brief definition of the term “boarding” is a simple place that is home to clerics with the santrinya. In Java, the magnitude depending on the number santrinya cottage. The existence of a very small cottage by the number of students is less than one hundred to lodge that has a vast land with a number of more than three thousand students. Regardless of how many students, boarding students are always separated women with male boarding students.
The complex has a Pesantrenbuildings other than dormitories house students and clerics, religious teachers also include housing, building Islamic schools, sports fields, canteen, cooperative, farm land pertenakan. Sometimes cottage building itself was founded by clerics and occasionally by villagers who work together to collect the funds needed.
One cottage intentions other than those intended as a dormitory where the students are as a training ground for students to develop their independence skills to prepare them to live independently in the community after graduating from boarding school. Students must own cooking, washing his own clothes and were given tasks such as maintaining the cabin environment.

Boarding system is a hallmark of the pesantren tradition that distinguishes pesantren education system with a system of Islamic education such as the education system in Minangkabau region called the mosque or systems used in Afghanistan.

2.3.2 Mosque

The mosque is an element that can not be separated by boarding and regarded as a most appropriate place to educate the students, especially in the practice of praying five times, sermons, and the Friday prayer, and teaching classical Islamic books. Status of the mosque as a center of education in the pesantren tradition universalism is a manifestation of the traditional Islamic educational system.
Connexion of Islamic education and mosque very close and tight in the Islamic tradition around the world. In the past, the Muslims always use the mosque for the worship and also as a place of Islamic educational institutions. As a center of spiritual life, social and political, and educational Islam, the mosque is an aspect of everyday life are very important for the community. Usually the first founded by a religious scholars who wish to develop a Pesantrenis the mosque. The mosque is located near or in the back of the house kyai.

2.3.3 Teaching Using Classical Islamic Books

The books authored classical Islamic scholars earlier and includes lessons on the various sciences of Islamic religion and Arabic. In the boarding schools, classical Islamic books often referred to the book because of the color yellow paper editions of the book mostly yellow.
According to Dhofier (1985:50), “in the past, teaching classical Islamic books are the only formal instruction given in the Pesantrenenvironment. "At this time, most schools have taken the teaching of general knowledge as an important part also in the Pesantreneducation, but teaching the books of Islamic classic still given high importance. In general, the lesson begins with books that are simple, then proceed with the books and deeper levels of a Pesantrencan be known from the type of books that are taught.(Hasbullah, 1999:144).
There are eight kinds of knowledge taught in the classical Islamic books, including: 1. Nahwu and sharaf (morphology); 2. fiqh; 3. proposal fiqh; 4. Hadith; 5. interpretation; 6. monotheism; 7. tasawwuf and ethics; and 8. other branches such as the chronicle and Balaghah. All types of books can be classified into groups according to level of teaching, for example: elementary, intermediate and advanced. The Book is taught in schools in Java in general same. (Dhofier 1985:51).

2.3.4 Santri (Student)

Students are important elements in a boarding institution, because the first step in the stages of building a Pesantrenis that there must be a student who came to learn from an alim. If the student has lived in the house of a pious, learned that the new one can be called religious scholars and began to build a more complete facilities for boarding.
There two kinds of students :
1. Kalong Student
Is the students who did not settle in a hut but went home after the completion of each follow a lesson in boarding. Students bats usually come from areas around schools so do not mind if often go home.
A students went and settled in a Pesantrenfor various reasons :
a. He wanted to study any other book that discusses in more depth Islam under the guidance of clerics who led the pesantren.
b. He wanted to gain experience of Pesantrenlife, both in teaching, organization and relationship with the famous pesantren.
c. He wants to concentrate his studies at the seminary without preoccupied with day-to-day duties at the family home. In addition, by staying in a Pesantrenthat are very far from his own house, he does not easily go back though sometimes he want.
2. Mukim Student
He is the son or daughter who lived in Pesantrenand usually come from distant regions. In the past, the opportunity to go and settle in a distant Pesantrenis a privilege for the students because he had full ideals, have courage enough and ready to face its own challenges that will be experienced in the boarding. (Dhofier, 1985:52).

2.3.5 Kyai

Kyai important role in the establishment, growth, development and maintenance of a Pesantrenmeans he is the most essential element. As leaders of pesantren, pesantren lot of character and success depend on the expertise and depth of knowledge, and charismatic authority, and skill kyai. In this context, personal religious scholars is crucial because he is the central figure in a boarding.
The term kiai is not derived from the Arabic, but from the Java language (Ziemek, 1986:130). In the Java language, the words of clerics used for three different types of degrees, namely:
1. As the title of honor for the goods that are considered sacred; for example, "Kyai Golden Garuda" is used to specify a train of gold that is in Kraton Yogyakarta;
2. Honors for older people in general;
3. Title given by the society to the scholar of Islam who have become leaders or boarding schools and teaching classical Islamic books to the santri.

2.4 The Typology of Pesantren

Along with the rate of development of the community then either place a Pesantreneducation until the substance has been much changed. Pesantren is no longer as simple as what a person described but the boarding schools might be changed in accordance with the growth and development of the times.
According to Yacob cited by Khozin say that there is some division of Pesantrenand typology :
• Salafi Pesantren is a Pesantrenwhile maintaining a lesson with classic books and without any public knowledge. Pengajarannyapun as a common model applied in salaf pesantren is with methods weton and sorogan.
• Khalafi Pesantren is schools that implement classical teaching system (Madrasi) provide general knowledge and science of religion as well as providing vocational education.
• Short term Pesantren is which form a kind of Pesantrentraining in a relatively short time and usually held on school holidays. It focuses on the Islamic School ibdah and leadership skills. While the students consists of students who follow religious activities deemed necessary dipesantren lightning.
• Integrated Pesantren is boarding a greater emphasis on vocational education as vocasional or training centers in the Department of Labor with an integrated program. While the majority of students come from the children drop out of school or job seekers. (2006:101).
Meanwhile, according to Masoud et al there are several typologies or models Pesantrenthat is:
• Pesantren that maintains the purity of the original identity as a place of religious sciences menalami (tafaqquh fi-i-din) for the santrinya. All the material taught in these schools are religious are all derived from the Arabic-language books (yellow book) written by the scholars' medieval. Pesantren model is still much we have encountered up to now as Lirboyo pesantren in East Java Kediri elapsed schools in central Java Apex Nest District and others.
• boarding which include common materials in the teaching curriculum, but with organized themselves according to their needs and do not follow the curriculum set by national governments so that diplomas issued not get recognition from the government as a formal diploma.
• conducting public education Pesantrenin good shape madrassas (Islamic schools distinctively in the shade DEPAG) and schools (public schools under DEPDIKNAS) in various levels even up to a higher education include not only the religious faculties meliankan also general faculties. Pesantren Tebu Ireng in Jombang East Java example adl.
• Pesantren which is a Muslim student dormitory where the students learn in schools or colleges outside it. Religious education in schools of this model is given outside school hours so that it can be followed by all santrinya. It is estimated that this is the largest Pesantren model number. (2002:149-150).

2.5 Learning Method in Pesantren

Here are some traditional teaching methods that characterize learning in the main cabin salafiyah.
a. Sorogan Method
This method is originally from javanese language “sorog” that means inform/publish. Students inform/publish theirs book/kitab to their teacher (kyai, ustad,etc). This system is included as individual learning system. Where students facing their teachers and interract each other to giving information about their studies. This method is very common and very effective for pesantren and always used in several pesantren in Indonesia.

b. Wetonan/Bandongan Method
This method is originally from javanese language “weton” that means “time”. This method explained that study in pesantren is determined in particular time. Usually, in several pesantren study settled before or after praying. this method conducted by teacher to explain to his student and his students listen to his explaination about their studies in book that read by teacher.

c. Musyawarah Method
Musyawarah is the method that almost same with discussion method. Students make their own group and then discuss about their studies. And then, after they discuss they presented their thought that concluded after the discussion. And the teacher give addition to make the problem of studies clear.
This method also used in order to solve problems of islamic studies like fiqh, tauhid, etc.

d. Recitation Method
Recitation method means that students attend to some recitation in other pesantrens to make relation between students and another pesantren. They travel to one pesantren to another in order to develop their studies about different method of another pesantren, because each pesantren have their own method.

e. Memorize Method
Memorize method is the activity of student in pesantren to memoryze their studies under the guidance from teachers. This method is effective in recitaion about Holy Qur’an, Nahwu, Lughoh (Language), Shorof, etc.

f. Demonstration Method
This method means that teacher give demonstration about worshipping activities. This method usually used in pesantren on fisrt grade or lower grade. Teacher demonstrate how to pray, recite qur’an and hadith, and another worshipping activities.

2.6 Pesantren Transformation in Modern Era

a. Educational Transformation of Pesantren
Almost of Islamic Education Institutions are aiming and focusing on Islamic teaching and or religious texts. Because, pesantren has signature of ‘the originality of Indonesian educational institution’. Abdurrahman Wahid argues that pesantren are categorized as a sub-culture. Because in fact, pesantren has own cultural characteristics such as cultural discourse about educational values, leadership style, and pesantren values which are considered different from the outsider’s perspective.
In this Era, obviously gives challenge and obstacle to educational outcomes and many of competitive people, while at the same time pesantren as educational institutions still need to be able to keep their tradition and originality as a provider of Islamic teaching.

b. Cultural Transformation of Pesantren
In this modern Era, the cultural educational values of pesantren are varied. And this educational values are not only take prior from Islamic studies just like Fiqh and Tafsir supervised by Kyai but are also dominated by general/secular knowledge subjects like technology, and mathematics.
Implementation of National curriculum in traditional religious schools inside of pesantren leads the management of pesantren to recruiting new teachers and staffs that has background are not necessarily in Islamic studies. And because of that, transfer of authority in Pesantren from old Kyai to younger Kyai produces a new dynamics in Pesantren Culture.
Most Pesantren in this globalization era are using a new systems and technologies to improve the education in that pesantren. Such as, now in pesantren has a school laboratories to do experiment and observation for scientific science. And using of modern communication to connect between the office and dorms in Pesantren. But, pesantren still keep their own tradition and their method of teaching. The dedication from santri to Kyai still high and they are respecting to Kyai. These factors are the new hybrid system that made pesantren in this era still exist and still develop bigger and bigger. Because they combine and using a new systems to keep their tradition. That’s a good point.

c. Social Transformation
Beside Pesantren have basic character above, pesantren also plural character, heterogeneous. Pluralism of pesantren, they showed by there is no everything regulation, well contain about managerial, administration, bureaucracy, structure, culture, curriculum especially politic that explain pesantren become just one.
Regulation come from religious understanding that personificated by some Yellow Book. Because of pluralism level and strong independent, felt so difficult to give conceptual formula that definitive about pesantren.


CHAPTER III
ANALYZE

1. The Suitable Learning Method that could be used by pesantren in this era

If we talk about suitable method that could be used in this era, we just combine and integrate the old and valuable method with new method of teaching in this era. Suitable method sometimes is using the discussion method because discussion method is a way to prepare, to train the student (santri) to discuss, to make a group or we could call it by small-size society that contained by some students that thinking together, solve problem together, and use discussion to get the best and the most valuable decision from it. And then the second method that important and could be used too is the recitation method. Students go to another pesantren or another educational education, whether Islamic institution or secular institution of education. They learn something from that, students could compare some of studies that used in another institution and also they could integrate it by their own studies. So, some of learning method of pesantren, that two methods are the suitable method that could be used by pesantren in this era and could be integrated by the new technology, new education method, and new curriculum.

2. Salafi pesantren that used the improvization and being Khalafi pesantren

In this era, there are some salafi pesantren that still exist and still survive. In order to develop and make survival of that pesantren, it uses integration, between old method and new method. According to Dr. Hussein Aziz, an alumna and senior Ustadz at Pesantren sidogiri, who also Has a modern educational background: it is common knowledge that pesantren usually refers to the principle of al muhafadat ala qadim al shohih wa al akhdu bi al jaded al aslah (maintaining the old values that are good and still relevant and adapting the newer one that are better). So, some salafi pesantren integrate with the new technology, new method, and new social approach to make a bigger development and make an improvisation in order to keep and maintain the pesantren itself, it happened because the modernization already affecting some society and environment around that pesantren itself. So the pesantren must develop and adapting the social-changing that caused by modernization in society, they integrate by the technology because the society is changed. And the pesantren must have an alumna that capable to handle that situation. So, they do that improvization.

3. Problem that dealt by pesantren in this era

The first and the critical problem is about the leadership itself. Everyone knew that the leader of pesantren is a Kyai, that mastering the Islamic educational studies, and also he’s the one that capable to get the social approach to his students in the pesantren. In this era, there are some changing in society and world. And the leadership style also must be change. The leadership of the pesantren is the crucial thing in there. Change and improve the leadership that capable not only the situation inside pesantren, but also maintaining and adapting some modern and changing around the pesantren. They need the best and the most capable leader that mastering both classical and modern education style. That capable to handle the Islamic and secular/general issues in the pesantren, that could recite using Islamic religion value and secular value.
The second is financial, because pesantren needs to change the financial management. Because, the one and only problem that caused all of this is the modernization. Pesantren need change and improve using technology inside of pesantren and some education institution in pesantren (school). Improvisation that include the infrastructure itself. Funds is the second of the biggest problem in pesantren. Because if pesantren want to improve, it needs the funds to improve.
The third problem is the management, we conclude the management is around the curriculum, education method, and the development of life skill in the pesantren itself. And some pesantren in this era must integrate the curriculum not only recite about Islamic religious value deeply using kitab kuning but also knowing about science or secular science. This concept is intended to make student vary care about both of science, religious science and general science. When they decide of a scientific method, they could recite it and could make a correlation between that scientific method with some Islamic values. So, they could realize that using Islamic values to recite and study about scientific method is the best method. And the curriculum itself must be balanced, if students study about religious value deeply, then students must study about general science deeply too. To make a hybrid alumna of pesantren that could solve a problem not using the intellectual ability but also using spiritual ability.


CHAPTER IV
CLOSING

4.1 Conclusion

Pesantren is a religious institution which has its own peculiarities and different from other educational institutions. Education in Islamic boarding schools include education, preaching, community development and other similar education. Learners in schools are generally referred to students living in boarding schools. The place where the students lived in boarding school environments, referred to as cottages. From this, it called by the term Islamic Boarding Schools.
In this Era, obviously gives challenge and obstacle to educational outcomes and many of competitive people, while at the same time pesantren as educational institutions still need to be able to keep their tradition and originality as a provider of Islamic teaching.
In this modern Era, the cultural educational values of pesantren are varied. And this educational values are not only take prior from Islamic studies just like Fiqh and Tafsir supervised by kyai but are also dominated by general/secular knowledge subjects like technology, and mathematics.


BIBLIOGRAPHY

Suwendi, Sejarah & Pemikiran Pendidikan Islam, 2004, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, 1994, Jakarta:LP3ES.
Departemen Agama RI, 2003, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya. Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Marzuki Wahid, “ Pesantren di Lautan Pembangunanisme: Mencari Kinerja Pemberdayaan”, dalam Marzuki Wahid, et.al ed. Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. (Bandung:Pustaka Hidayah,1999) Cet. I hlm. 145-147.
Kawakib, A. Nurul, 2009;Pesantren and Globalisation: Cultural and Educational Transformation, Malang, UIN Press.
http://blog.re.or.id/pondok-pesantren-sebagai-lembaga-pendidikan-islam.htm